"Tempekripik, ringan & kriuk"

Jan 25 2011
Saya baru sadar, sudah sering kamera ini saya gunakan, namun untuk foto Bapak saya sendiri, hanya ada satu foto ini dengan hasil yang menurut saya paling lumayan, itupun dengan kualitas ketajaman foto yang buruk. Berdosa saya sungguh, berdosa.
Foto ini diambil waktu suatu sore Bapak menraktir kami sekeluarga makan di sebuah rumah makan mungil tapi bersih di kota kecil kami, pada saat saya sedang pulang dari merantau.
Penglihatan yang sudah tidak begitu prima, membuat Bapak harus mendekatkan mata beliau untuk membaca menu makanan. Rambut Bapak yang ikal dan sudah banyak uban, kening yang berkerut-kerut (yang persis sama dengan kening saya), Kulit yang semakin menghitam dimakan waktu, tapi dengan sorot mata yang tetap… kadang tajam seperti karang atau kadang teduh seperti lautan tenang.
Sebagai anak pertama, saya mengerti dan saya cukup memahami bagaimana Bapak bekerja membanting tulang untuk keluarganya. Merasakan bagaimana awal keluarga kami dibangun dengan kerja keras, dengan penuh cinta dari Bapak, itu mungkin sebabnya kenapa saya sungguh sangat jarang untuk mengeluh tentang hidup saya sendiri setelah selama ini melihat kerja keras Bapak.
Ah, entah kenapa, hari ini rasanya saya rindu sekali kepada Bapak.
Saya pulang naik kereta paling awal, sore nanti.

Saya baru sadar, sudah sering kamera ini saya gunakan, namun untuk foto Bapak saya sendiri, hanya ada satu foto ini dengan hasil yang menurut saya paling lumayan, itupun dengan kualitas ketajaman foto yang buruk. Berdosa saya sungguh, berdosa.

Foto ini diambil waktu suatu sore Bapak menraktir kami sekeluarga makan di sebuah rumah makan mungil tapi bersih di kota kecil kami, pada saat saya sedang pulang dari merantau.

Penglihatan yang sudah tidak begitu prima, membuat Bapak harus mendekatkan mata beliau untuk membaca menu makanan. Rambut Bapak yang ikal dan sudah banyak uban, kening yang berkerut-kerut (yang persis sama dengan kening saya), Kulit yang semakin menghitam dimakan waktu, tapi dengan sorot mata yang tetap… kadang tajam seperti karang atau kadang teduh seperti lautan tenang.

Sebagai anak pertama, saya mengerti dan saya cukup memahami bagaimana Bapak bekerja membanting tulang untuk keluarganya. Merasakan bagaimana awal keluarga kami dibangun dengan kerja keras, dengan penuh cinta dari Bapak, itu mungkin sebabnya kenapa saya sungguh sangat jarang untuk mengeluh tentang hidup saya sendiri setelah selama ini melihat kerja keras Bapak.

Ah, entah kenapa, hari ini rasanya saya rindu sekali kepada Bapak.

Saya pulang naik kereta paling awal, sore nanti.

Page 1 of 1